i-today24 - Pariaman, Satu-Satunya Kota Bebas China Di Dunia – Keturunan Tionghoa
atau China dikenal ada di mana saja. Di mana bumi membentang pasti ada
China nya. Pameo demikian tidak berlaku untuk Kota Pariaman pasca
insiden “Kansas” yang terjadi sekitar tahun 1944 bertepatan sebelum
hengkangnya Jepang dari tanah air. Peristiwa Kansas itu sendiri terjadi
di Simpang Kampuang Cino Pariaman tepatnya di simpang tugu tabuik
sekarang.
Insiden Kansas adalah peristiwa pembunuhan (dengan penggorokan) terhadap
beberapa orang penduduk keturunan Tionghoa di Pariaman karena sesuatu
alasan. Kansas dalam artian Kanso, adalah alat yang dilakukan untuk
menggorok. Kanso bisa disamakan dengan jenis logam seng tebal yang
terdapat pada beberapa kaleng. Kanso yang digunakan saat itu diambil
dari bekas kaleng roti.
Peristiwa Kansas dipicu akibat tidak setianya beberapa oknum penduduk
China Pariaman kepada pejuang pribumi. Tidak semuanya memang, namun
akibat gesekan rasial tersebut seluruh komunitas China yang ada di
Pariaman hengkang menyelamatkan diri ke berbagai daerah. Aset mereka
yang tinggal begitu saja, beberapa waktu kemudian dijual murah melalui
perantara.
Sebelum peristiwa tersebut, komunitas China sangat ramai di Pariaman.
Mereka punya pandam pakuburaan tersendiri yakni di belakang Makodim
0308/Pariaman (sekarang). Masyarakat Tionghoa di Pariaman sudah ada
sejak zaman Belanda. Mereka yang ada di Pariaman umumnya para pedagang,
pemilik pabrik roti, pabrik sabun, hingga distributor rempah-rempah dan
kebutuhan sehari-hari (kumango).
Komunitas China Pariaman bermukim di area Kampung Chino yakni di Jl. SB
Alamsyah Kp Balacan, Kp Jawo, dan Kp Pondok. Sebelum Insiden Kansas,
mereka hidup rukun berdampingan dengan pribumi. Tempat sembahyang China
di Pariaman terletak di Simpang Tabuik yang sekarang persis berada di
deretan Toko Ali.
Merujuk pada sejarah yang dituturkan saksi hidup yang sempat kami
wawancarai, kekecewaan pribumi pada komunitas China bermula dari
diketahuinya lokasi pejuang pribumi oleh tentara Jepang. Pejuang pribumi
saat itu banyak dieksekusi di tempat persembunyiannya. Apa yang mereka
rencanakan selalu diketahui oleh tentara tentara Jepang.
Atas keganjilan tersebut, pribumi saat itu memutar otak. Mereka mencari
dimana letak keganjilannya. Mereka berpikir ada sesuatu yang telah
terjadi. Pengkhianatan terhadap mereka telah dilakukan.
Pejuang pribumi yang tersisa mengutus anak-anak untuk memata-matai
beberapa oknum yang dicurigai. Mereka disuruh bermain-main di halaman
sejumlah kedai yang acap digunakan tentara Jepang berkumpul. Mulailah
anak-anak bermain gasing, patok lele dan permainan tradisional lainnya
ke tempat-tempat yang disuruh pejuang pribumi.
Usaha tersebut ternyata berhasil. Salah satu kedai kopi milik non
pribumi China di Kp Balacan dikupingi pembicaraannya. Pemberi informasi
memang bukan pemilik kedai, tapi langganan tetap yang juga keturunan
China. Rupanya selama ini dia menjadi mata-mata (spionase) Tentara
Jepang.
Singkat cerita, mata-mata Jepang tersebut “diambil malam” oleh pejuang.
Dari penuturan yang kami himpun, komplotan mata-mata itu semuanya
berjumlah tiga orang. Tiga orang pengkhianat tersebut dibawa ke tempat
persembunyian pejuang. Di sana mereka diinterogasi dan akhirnya mengakui
perbuatannya.
Atas perbuatannya itu, ketiga orang tersebut dieksekusi dengan cara yang
belum pernah terpikirkan olehnya. Leher mereka digorok hingga nyaris
putus dengan Kanso yang maha perihnya. Ketiga mayat tersebut diletakan
menjelang subuh tepat di depan tugu tabuik sekarang ini berada. Kanso
sebagai alat eksekusi masih menempel di leher mereka.
Dari Catatan Oyong Liza Piliang (ts/pariamannews)

0 Response to "Pariaman, Satu-Satunya Kota Bebas China Di Dunia "
Posting Komentar